Farih Ibnu Khozin dari Kimia '87 IKIP Yogya

Blog EntryEmas emas dan emasFeb 28, '08 6:09 AM
for everyone
Democracy bukan democrazy…..is a government of the people by the people to fool the people. (Imam Semar). Ingat kata to fool the people.

Celakalah para pensiunan dan orang yang punya tabungan karena yang ada di pemerintahan: wakil presiden, mentri-mentri ekonomi kabinet sekarang adalah orang orang yang patut diduga berhutang (besar). Yusuf Kalla (BUKK) dan Ical Bakri (Bakri Group) serta orang-orang yang terkait dengan perusahaan-perusahaan yang berhutang besar (di BPPN) seperti Yusuf Anwar (Presdir Chandra Asri), Sugiarto (ex bendahara Medco), Sri Mulyani (IMF). Saya ungkapkan satu rahasia mengenai cara-cara para politikus untuk memindahkan kekayaan riil (wealth) ke para penghutang...... inflasi. Ya!! Ingat, uang Rp 500 yang terbuat dari logam aluminium sekarang ini (tahun 2004) tahun 1950an bernilai Rp 1 juta rupiah dan bisa dipakai untuk beli rumah sederhana.

Perubahan ini karena inflasi. Begini cara pindahnya wealth itu: dengan inflasi maka nilai riil uang akan turun. Artinya nilai riil tabungan anda dan para pensiunan akan turun!! Artinya nilai riil dari hutang para penghutang (seperti Bakri Group, BUKK group dan Chandra Asri) akan turun. Para penghutang bisa berhutang untuk (akan) membeli hard asset yang tahan terhadap inflasi. Tahukah anda bahwa IMF adalah great crusader untuk penggunaan US Treasury Bond/Bill , US dollar sebagai cadangan devisa dan sekarang US mencetak dollar dengan kecepatan 1 juta per menit, 24 jam sehari dan 7 hari perminggu. A little dirty trick bukan? – Itu sebabnya Imam Semar tidak ikut pemilu. Memilih orang yang mungkin akan menggorok tabungan?

Jangan mentang-mentang Indonesia sudah mengadakan pemilu presiden secara langsung maka reformasi (apapun artinya) akan berjalan. Kalau anda menganggap saya paranoid. Silahkan saja. Saya tidak akan makan Haldol atau Serenase untuk mengobati penyakit Schitzoprenic Paranoid. Tapi saya akan melakukan tindakan preventif agar tabungan kebal terhadap akal-akalan para mentri-mentri pengutang. Intinya sedehana saja. Tahukah anda bahwa harga ayam 1400 tahun lalu di negri Arab (jazirah Arab). Menurut catatan sejarah seekor ayam pada waktu itu adalah 1-2 dirham (1 dirham = 3 gr perak). Dan sekarang di Indonesia atau di Saudi, dengan 1-2 dirham anda akan dapat ayam yang sama. Bagaimana dengan rupiah? Tidak perlu 1400 tahun, cukup 50-60 tahun saja. Harga rumah sederhana 60-50 tahun lalu adalah 1 juta rupiah. Dan sekarang uang 1 juta rupiah itu telah menjadi 500 rupiah setelah terkena sinering dan jumlah itu tidak cukup untuk naik bis!! Habis sudah 1 juta tahun 1950an terkikis inflasi.

Pembaca sekaian, kalau pemerintah menargetkan inflasi 5% (artinya mereka sengaja meng-kikis tabungan anda 5% per tahun) seperti kata koran, apakah anda percaya hanya 5%? Kalau ada orang mengatakan bahwa saya akan ambil hartamu 15% pertahun dan dia tahu anda tidak rela, akan kah dia mengatakah 15%. Bukan lebih baik dia mengatakan yang lebih konservatif, seperti 5%, 3% atau 1%. Saya bertanya-tanya, selama ini pemerintah mengatakan bahwa inflasi hanya 4%-7%, tapi bagaimana mungkin harga emas sudah naik 30% dalam 2 tahun terakhir ini. Dan barang komoditi 100% dan lebih?

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya baru melihat headline di Detik, bunyinya:"Pemerintahan SBY Pembohong".

http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/12/tgl/24/time/132311/idnews/261871/idkanal/10

Yang bicara mahasiswa FISIP - jurusan tidak berguna, yang tidak bisa diterima di fakultas kedokteran, teknik, ekonomi, hukum, dan entah apa lagi. Imam Semar tertawa. Baru tahu ya? Imam sudah bilang dari dulu. Tapi wajar kok. Orang FISIP biasanya tidak mengerti yang sederhana kok. Okey, kita teruskan lagi artikelnya.

Orang awam – apa lagi para penyandang gelar sarjana ilmu politik - hanya paham konsep yang sederhana. Ada ungkapan dikalangan ahli politik (dan diterima baik oleh orang awam), yaitu paling benar. Ditinjau dari sudut ilmu logika, kata tersebut tidak ada artinya. Benar dan Salah, tidak mempunyai gradasi, toh ungkapan itu diterima oleh orang banyak (awam). Salah satu konsep yang diterima secara luas oleh orang awam adalah bahwa demokrasi akan menjamin terciptanya kemakmuran, kesejahteraan, keamanan dan kebebasan. Imam Semar menyangkal hal tersebut. Tentu saja ada buktinya. Anda tahu bahwa India adalah negara demokrasi terbesar di dunia. Kalau anda lihat dalam segi keamanan, kemakmuran, kesejahteraan, mana yang lebih tinggi India atau negara berikut ini: Brunei, Kuwait, Qatar, Hong-Kong, Macao, Bahrain, Jordania, Monaco. Rakyat ke delapan negara ini tidak pergi ke tempat pemungutan suara setiap 4-6 tahun untuk memilih wakilnya. Itu perbedaan antara US, India dengan 8 negara yang saya sebutkan terakhir.

Konsep bahwa jika partisipasi masyarakat dalam negara semakin besar maka kemakmuran, kesejahteraan, keamanan akan lebih baik dan meningkat adalah anggapan yang salah. Presiden dan wakil rakyat dipilih oleh rakyat dengan suara mayoritas, dari rakyat, kemudian diberi kekuasaan untuk membelenggu rakyat dengan segala macam undang-undang dan membebani rakyat pajak . Kepada siapakah mereka ini bertanggung jawab? Secara teori kepada rakyat yang memilihnya. Tapi siapa pemilihnya? Tidak ada catatan siapa saja yang memilih mereka. Lagi pula derajat para pelaksana negara ini sudah dinaikkan melebihi yang memilihnya. Contohnya, untuk menyeret seorang presiden atau anggota parlemen atau mentri diperlukan prosedur yang lebih kompleks karena hak-hak mereka lebih tinggi dari pada kriminal dari kalangan rakyat biasa. Apakah anda masih mengharap mereka ini akan respek, dan mau bertanggung jawab kepada pemilihnya? Saya tidak heran kalau Mega menandatangani Keppres yang memberinya fasilitas rumah seharga Rp 20 milyar diakhir masa jabatannya. Bayangkan ketua partai wong cilik dapat bonus rumah Rp 20 milyar!!! Dari mana duitnya? Kalau dulu orang kantoran saja yang pasti kena pajak, sekarang, dari mulai pembantu, kuli, pedagang eceran, mbok jamu gendong kena jerat juga. Dulu penarikan pajak pendapatan dilakukan majikan/employers/tempat bekerja, sekarang siapa saja yang berurusan dengan bank akan kena pajak (karena wajib menyetor NPWP jika berurusan dengan bank). Pandai juga mbak Mega yah? Legal!

Saya tidak yakin bahwa semakin besar peran rakyat akan semakin menjamin tercapainya kemakmuran, kesejahteraan, keamanan dan kebebasan. Semakin banyak peran dalam pemerintahan semakin besar organisasi pemerintahan dan banyak redundansi/pemborosan. Untuk sebuah kerajaan yang absolut, tidak diperlukan anggota MPR, DPR, DPRD tingkat I, tingkat II (dan kalau ada tingkat III dan seterusnya). Dengan adanya otonomi daerah, organisasi pemerintah semakin besar. Biaya semakin besar, pajak semakin besar. Tidak heran pada zaman kekalifahan Umar bin Khattab, pajak penghasilan hanya 2.5% saja, bandingkan saya dulu bayar 35%!!! Lebih dari 10 kali lipat.

Dosa Asal John Keynes dan John Law Sejak dulu emas dan perak atau yang disetarakan digunakan sebagai uang karena benda-benda ini dapat menyimpan nilai kekayaan (wealth). Pemerintah tidak dapat memanipulasi uang dengan standard emas/perak. Sejarah memcatat bahwa berkali-kali pemerintah/kerajaan yang pernah ada di dunia ini memaksakan kehendaknya dan memanipulasikan nilai uang. John Law (seorang pelarian kriminal dari Scotland) di tahun 1716 membuka Banque Generale atas ijin Duc d’Orleans penguasa defacto di Prancis (paman raja Luis XV yang masih berumur 7 tahun) dicatat oleh sejarah sebagai orang yang memperkenalkan cara baru untuk memanipulasikan uang dengan memperkenalkan uang kertas Livre di Prancis. Mungkin idenya didapat dari pedagang-pedagang Arab yang menggunakan check yaitu bukti kepemilikan uang. Tentu saja check yang dikeluarkan para pedagang Arab bukan check bodong. Ide ini dilatar belakangi oleh keinginan untuk menggerakkan ekonomi yang turun, memakmurkan kerajaan (penguasa) dengan uang yang dicetak (baca: diciptakan). Awalnya memang setiap pencetakan Livre selalu dibatasi dengan jumlah cadangan emas. Tetapi kemudian di benak John Law, kenapa tidak membuat check bodong – atau uang kertas tanpa kolateral. Ini diwujudkan pada advisnya kepada Duc d’Orleans bahwa rakyat sudah konfiden terhadap uang kertas dan cadangan emas sudah tidak diperlukan lagi. Tahun 1719 peredaran Livre meningkat berlipat ganda. Suku bunga pinjaman yang rendah antara 1%-2% menyulut spekulasi dimana-mana termasuk di saham Mississipi Company – perusahaan yang dibawahi John Law. Stock bubble and credit bubble. Bisa diterka bahwa 1722 tahun kemudian Livre ambruk. Tapi John Law dan ckonco-konconya kaya karena telah memindahkan uang kertasnya dengan asset riil, istana, lukisan-lukisan dan perhiasan. John Law melarikan diri dari Prancis. Dia mati tahun 1729 dengan meninggalkan aset-aset riil. Walaupun dia mati tetapi idenya Law tetap hidup. Cerita John Law dan Mississipi Bubble ini sangat menarik karena cerita ini adalah sejarah hitam di bidang keuangan yang melibatkan pelarian kriminal (John Law), penguasa (Duc d’Orleans) dan para politikus (lingkungan kerajaan). Apakah ini mengingatkan anda pada sesuatu? Tak apalah, bila ada kesempatan kita akan ceritakan secara lebih detail.

Aliran pencinta uang disebut monetarism atau monetarisme. John Keynes dikenal juga sebagai salah seorang yang ide-idenya berpengaruh. Dalam menghadapi kelesuan ekonomi, kata Keynes, pemerintah perlu menstimulir dengan menginjeksikan liquiditas dan juga menggalakkan proyek-proyek pemerintah. Dalam bahasa awamnya: Kalian punya problem ekonomi? Cetak duit dan belanjakan!!! . Imam Semar di KSC bertanya: Apakah kemakmuran bisa dicapai dengan mencetak kertas yang diberi angka atau dengan berhutang, maka dunia sudah makmur dari dulu kala!! Ekonomi di jaman Sukarno, Suharto.... jebol karena menggelembungan uang kertas dan kredit. US di tahun 1930an, dan 1970an juga demikian.

Central Bankers Did It Again Awalnya Richard Nixon. Perang Vietnam memberikan tekanan ekonomi pada US. Nixon tergoda untuk melakukan spending (belanja negara) lebih banyak lagi. Tetapi pada saat itu US dan dunia terikat perjanjian Bretton Woods. Inti perjanjian itu ialah bahwa negara-negara di dunia ini boleh menjadikan US dollar dan poundsterling sebagai cadangan devisanya sebagai pengganti emas. US dan Inggris akan mengontrol jumlah dollar dan poundnya sesuai dengan cadangan emas yang mereka miliki. Jadi standard emas masih berlaku.

Godaan Nixon untuk membuat check bodong – uang bodong lebih tepatnya, akhirnya direalisasikan. Bisa ditebak apa yang terjadi kemudian. Jendral Charles DeGaulle melihat hal ini. Dia menyuruh Prancis menukarkan cadangan dollarnya ke emas tahun 1967. Banyak yang megikuti jejak DeGaulle, menukarkan cadangan dollarnya ke emas, dollar dirush, seperti yang terjadi di tahun 1930an (juga pada kasus Mississipi Company, Livre & John Law). Akhirnya Nixon menutup pintu untuk penukaran emas tahun 1971. Belanja negara US tinggi untuk membiayai perang dingin, perang Arab-Israel (dari belakang) dan perang-perang lain di Amerika Selatan, defisitpun naik, Selanjutnya dalam masa 10 tahun berikutnya harga emas naik dari $35/oz ke $875/oz sebelum turun lagi ke kisaran $260-$300/oz.

Sejak standard emas ditinggalkan tahun 1971, jumlah uang yang dicetak dan kredit/hutang meningkat cepat dan cadangan devisa non-emas naik (Chart-1). Sampai tahun 1998 jumlahnya mencapai 1.4 Triliyun US$ dari kurang 100 milyar US$ di tahun 1971. Kebanyakan cadangan ini dalam bentuk US$ dan US (treasury) bond. Pada saat ini (tahun 2004) Jepang dan China adalah pemegang bond yang dikeluarkan oleh pemerintah US. Kurang lebih sebesar $ 2.2 triliyun. Candangan emas di bank-bank sentral menjadi kecil porsinya.

Mungkin anda bertanya kalau dalam kasus Mississipi Bubble John Law, bubble meletus kira-kira 6 tahun sejak dimulainya program uang bodong. Demikian pula dengan Weimar hyperinflasi 1918 – 1923, hanya 6 tahun. Bagaimana dengan dollar, bukankah sejak tahun 1971 sistem keuangan tidak lagi menggunakan emas. Sejak ditinggalkannya standard emas (perjanjian Bretton Woods), krisis ekonomi semakin sering terjadi di dunia ini. Krisis keuangan high inflasi 1973-1980 di US, di Argentina (1980-82, 1995), Cili (1981-1983), Brazil (1994-1996), Mexico (1994 - ), Asia (1997 - ), Jepang (1992 - ), Russia (1998), krisis High Tech di Nasdaq dan sederet lagi. Dengan terbukanya perdagangan antar bangsa dan penggunaan US$ sebagai uang internasional, krisis yang bear dapat ditunda. Illusi yang mendalam bahwa dollar adalah hard currency membuat akhir dari uang bodong bisa tertunda. Bagaimana akhirnya?

Chart 1

Pertanyaan bagaimana akhirnya? kita simpan saja untuk para akademisi. Untuk kita yang penting ialah bagaimana menyelamatkan diri dari rencana jahat para bandit, penguasa dan politikus.

Perkiraan Harga Riil Emas Pada bagian berikut ini saya akan mencoba mengkira-kira berapa target harga emas. Berapa harga wajar dari emas. Kalau dari chart-1, pada saat harga emas menjadi stabil di kisaran $ 350/oz, jumlah dollar yang menjadi cadangan 300 milyar. Dan sekarang peertambahannya menjadi lebih dari 2.2 trillion. Kenaikan emas ke kisaran $ 2200/oz – $ 2500/oz.

Perkiraan ini dikuatkan dengan dengan jumlah uang yang dicetak (M3) dari tahun 1981 sampai 2002 seperti terlihat pada Chart-2. Kelihatannya $ 1400/oz bukan harga yang tidak mungkin.

Analogi Hyper Inflasi Tahun 70an dan Great Depression 30an Great Depression tidak bisa dijadikan analogi. Emas naik dari $22/oz ke $35. Kemudian pemerintah US mengeluarkan undang-undang pengharaman kepemikikan emas yang berlaku sampai tahun 1971. Oleh sebab itu harga emas seperti dipasung oleh undang-undang.

Hiper-Inflasi tahun 70an bisa dijadikan analogi, dengan catatan bahwa kepemilikan emas tidak diharamkan. Dengan adanya perdagangan antar negara, jumlah US dollar diluar US dan jumlah cadangan US dollar di bank-bank sentral di luar US yang besar, kemungkinan pemasungan ini tidak effektif lagi. Itu sebabnya saya memasukkan kasus hiper-inflasi tahun 70an menjadi analogi. Di samping itu banyak persamaannya. Antara lain:

- Perang Vietnam, Arab-Israel vs Perang Irak dan melawan teror.
- Budget Defisit
- Sebelumnya ada stock market bull thn 1950 – 1965 vs 1990 - 2000

Dari analog ini bahwa harga emas naik dari $ 35/oz ke $ 350/oz. Untuk ini berarti $3500/oz bukan mustahil. Bahkan dalam kasus tahun 70an pernah mencapai $ 850.

Siklus Index DOW-EMAS Seperti yang telah dicatat dalam sejarah, Mississipi-John Law Bubble, Great Depression & Investment Maniac 1920an, Hiper-Inflasi 1970an, ada korelasi antara emas uang sejati dan harga saham (atau barang yang dispekulasikan). Chart-3 menunjukkan hubungan antara Indek Dow-harga emas dengan waktu. Yang menarik ialah bahwa pada kasus Great Depression tahun 30an dan Hiper-Inflasi 70an mempunyai pola yang sama.

Chart 3 Kalau melihat analog ini target Dow-Gold ratio pada Gold Bull Market kali ini adalah 1.5-3. Karena ini merupakan rasio, maka Dow bisa jatuh dan emas bisa naik. Kalau Dow flat di kisaran 10,000, maka emas antara $ 3300 – 6700/oz. Saya meragukan bahwa Dow akan stabil di 10,000. Dow bisa turun sampai 5,000. Ini sejalan dengan grand cycle yang diramalkan para chartist bahwa Dow akan jatuh parah sampai 3,000 – 5,000. Dalam hal ini emas akan berada dalam kisaran $1700 – 3300/oz.

Untuk Dow, saya ambilkan chart dari posting di KSC (Chart-4) – Chart Dow index yang dikoreksi dengan inflasi. Pada chart ini Dow di tahun 70an mengalami penurunan, pada kenyataannya secara nominal relatif tetap. Lihat Chart – 5. Disini terlihat bahwa selama stock market bear tahun 70an, Dow relatif tetap selama 10 – 16 tahun.

Secara keseluruhan harga emas bisa masuk dalam kisaran $ 1,600 - $ 6,000/oz dengan mostlikely case $ 2500/oz. Dow bisa datar dengan hiper-inflasi atau jebol sampai ke 3,000 dengan inflasi yang minimum. Dan kalau mengikut dari siklus yang ada maka kemungkinan harga optimum emas akan tercapai antara tahun 2007 – 2010. Akan ini terjadi? Tidak ada yang mau berjanji bahwa Dow akan turun dan emas akan naik, tapi sejarah berulang-ulang menunjukkan seperti itu. Adakah waktu ini disekitar jadwal Olimpiade di China? Adakah kaitannya? Entahlah.....,

Tulisan lengkap dengan chartnya ada di Forum Ekonomi... diambil dari Iqro Club


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help